Translate

Kamis, 21 Agustus 2025

Sepuluh tahun perdamaian Aceh: Kesaksian empat eks kombatan GAM

 

Sebagian anggota eks tentara Gerakan Aceh Merdeka, GAM, mengaku kecewa terhadap proses perdamaian yang dianggap tidak berimbas pada perbaikan nasib mereka.

Sebagian eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka, GAM mengaku mengalami kesulitan dalam menjalani hidupnya setelah konflik bersenjata diakhiri melalui kesepakatan damai sepuluh tahun silam.

Walaupun sudah dilahirkan program reintegrasi bagi eks kombatan, antara lain berupa pemberian dana, namun kenyataannya program itu bukanlah obat mujarab.


Perjanjian damai Helsinki diikuti perlucutan senjata milik GAM yang dimulai Desember 2005.

Sebagian besar mantan tentara GAM itu diyakini masih dililit kemiskinan, sehingga sebagian dari mereka tergoda melakukan jalan pintas, dengan melakukan tindak kriminal.

Syarifuddin alias Bang Kumis

(Kelahiran 1974, mantan komandan militer GAM di sebuah wilayah di Aceh Barat, kini bekerja serabutan, terlibat penyanderaan mobil dinas Wakil Bupati Aceh Timur, Juni 2015)

Belum ada pendekatan serius oleh pemerintah Aceh terhadap saya dan kawan-kawan sesama mantan kombatan GAM. Dulu pernah dijanjikan diberikan uang, tetapi saya tidak pernah menerimanya.

Saya ingin agar pemerintah Aceh menciptakan lapangan kerja bagi eks tentara GAM. Lapangan pekerjaan ini penting, selain modal kerja, tentu saja.


Terhadap eks kombatan yang marah dan menempuh aksi kekerasan dan terjerumus tindakan kriminal, karena memang tidak memiliki pekerjaan. Kalau mereka bekerja, saya yakin tidak melakukan aksi kriminal.

Sekarang saya kerja apa saja, walaupun hasilnya sedikit. Tapi saya memikirkan kawan-kawan saya eks kombatan yang jumlahnya besar dan belum mendapatkan pekerjaan.

Di Banda Aceh, banyak orang bisa mengobrol dan minum kopi di kedai-kedai, tetapi di kampung, tidak sedikit eks kombatan yang susah hidupnya.

Dulu saya dan eks kombatan lainnya berjuang demi masyarakat, kita dulu rela mati. Sekarang, saya menjadi sedih, karena saya memperhatikan ada kasus korupsi di Aceh.


Kalau keadaannya begini terus, ya, mungkin saja kawan-kawan saya eks kombatan akan kembali "ke lapangan". Saya sendiri tetap berharap Aceh aman dan damai.

Saya menjadi ingat betapa kami dulu peduli terhadap anak buah yang terluka saat pertempuran di hutan, namun susah sekali mendapatkan obat.

Mengingat zaman perjuangan dulu, saya tidak pernah menyesali apapun, tidak trauma, tetapi kini saya sangat kecewa melihat kenyataan Aceh sekarang setelah sepuluh tahun perdamaian.

Azhari alias Cage



(Kelahiran 1976, mantan komandan di sebuah wilayah di Samudra Pasee, kini anggota DPR Aceh dari Partai Aceh, tengah menyelesaikan skripsi sarjana strata I)

Saya bergabung dengan GAM pada tahun 1998. Saya pernah menjadi petugas penghubung, komandan pleton, serta dipercaya menjadi komandan operasi.

Di masa itu, saya pernah menjadi "komandan bom" karena sering ditugasi melakukan peledakan bom. Posisi tertinggi saya saat itu adalah komandan operasi.

Salah-satu pengalaman yang tidak terlupakan adalah ketika harus berbagi satu batang rokok dengan sepuluh orang eks kombatan GAM. Bahkan ketika ada sisa-sisa rokok, kita linting lagi dan kita hisap lagi secara bersama.

Dan ketika perdamaian terjadi, saya mengikuti langkah yang dilakukan pimpinan GAM, termasuk mengubah kebiasaan, yang semula hidup di dalam hutan, dan harus berbaur ke masyarakat seperti semula.

Banyak yang kita lakukan saat terjun ke masyarakat, seperti mendirikan organisasi, agar ada kegiatan dan kesibukan. Tidak memikirkan yang dulu-dulu. Intinya, menyibukkan diri dengan hal-hal yang baru, seperti yang kita lakukan sebelum bergabung dengan GAM.

Mengapa saya terjun ke politik? Ini bukan pilihan, tapi sudah garis takdir. Saya punya rasa tanggungjawab terhadap apa yang kami lakukan saat Aceh dilanda konflik.

Saya harus melanjutkan perjuangan itu melalui jalur politik. Dulu dengan senjata, tetapi sekarang saya ubah cara berpikirnya dengan mengubahnya ke jalur politik dalam koridor damai.

Sebagai mantan kombatan, tentu saja saya dikenal masyarakat, sehingga waktu pemilu saya berhasil mendapatkan suara. Mungkin masyarakat bersimpati kepada eks pejuang.

Juga barangkali karena pembawaan, tingkah laku saya, serta kedekatan saya dengan ulama dan tokoh masyarakat, sehingga saya terpilih dan mendapat suara terbanyak.


Tentang adanya kasus eks kombatan yang mengangkat lagi senjata? Intinya, semua memiliki kesempatan untuk berbuat. Bisa menjadi sebagai kontraktor atau usaha lainnya, misalnya.

Pertanyaannya kemudian, apakah mereka bisa memanfaatkan peluang melalui program-program setelah perjanjian damai di Aceh.

Tetapi bagaimanapun, apabila sebagian eks kombatan belum tersentuh, mari kita duduk bersama dan mencari solusinya.

Zulfadli alias Basyah



(Kelahiran 1976, mantan tentara GAM yang dulu beoperasi dan berpindah-pindah dari Banda Aceh, Bireuen, hingga Perlak di Aceh Timur)

Kesepakatan perdamaian antara Indonesia dan GAM antara lain ditandai kesepakatan untuk mengintegrasikan eks kombatan ke masyarakat sipil.

Saya pernah mendengar dulu eks kombatan bakal menerima bantuan, tetapi setahu saya itu cuma sebatas janji. Saya diberi uang tetapi itu istilahnya "uang rokok" saja.

Usai perdamaian, saya sulit mendapatkan kerja. Baru setahun ini saya dipercaya mengelola kedai kopi yang kebetulan miliki seseorang yang saya kenal.

Di masa konflik, saya banyak melakukan penyamaran. Pergerakan saya luas, mulai Banda, Aceh Timur, hingga ke Birieun serta Perlak.

Di Banda Aceh, saya bisa tinggal lima bulan, kemudian pindah ke Perlak selama tiga bulan untuk menghindari kejaran pasukan TNI. Begitu seterusnya hingga perdamaian tiba.

Dulu saya memiliki komandan, yaitu Ayah Muni. Ada pula sosok Ridwan Abubakar yang baik sekali. Sampai sekarang kami sering kontak. Saya juga mengenal sosok mantan Panglima perang GAM almarhum Abdullah Syafii. Dia baik sekali. Dia memang betul-betul sosok Teungku.

Tentu saja, banyak yang tidak terlupakan zaman konflik. Saya masih simpan seragam GAM. Saya memiliki museum pribadi.

Seperti yang diutarakan kawan-kawan eks kombatan lainnya, saya pun meminta pemerintah Aceh memperhatikan kami, dengan antara lain menyediakan lapangan kerja buat kami.

Syardani M Syarif alias Teungku Jamaica




(Kelahiran 1977, mantan juru bicara militer GAM wilayah Samudra Pasee, kini bekerja pada Lembaga peningkatan sumber daya manusia Aceh, sambil menyelesaikan kuliah strata I)

Sekarang ada semacam gap (jarak), yang kaya tetap kaya dan yang miskin tetap miskin. Sejumlah warga Aceh, termasuk eks kombatan GAM, mendapat perhatian pemerintah, karena memiliki kedekatan akses.

Tetapi bagaimana dengan mereka yang tinggal di kampung-kampung dengan akses terbatas? Rasanya sulit mereka tersentuh, apalagi kita tidak memiliki data base kependudukan yang akurat.

Saya meyakini aksi-aksi eks kombatan GAM Din Minimi tidak dilatari motivasi menolak perdamaian GAM-Indonesia. Dia, menurut saya, menuntut keadilan kepada pemerintah Aceh, dengan caranya sendiri.

Barangkali dia kecewa karena keinginannya tidak didengar. Lalu ada yang memprovokasinya, dan dia pun mengangkat senjata lagi. Kita mesti merangkulnya kembali.

Tapi patut diketahui, pola rekrutman kombatan GAM saat itu. Pimpinan GAM meminta setiap kampung untuk mengirimkan setidaknya 10 orang untuk dilatih menjadi pasukan militer.



Mereka ingin agar yang mendaftar adalah orang-orang terbaik. Tetapi yang dikirim justru orang-orang yang "bermasalah", yaitu misalnya orang diduga pencuri, pemabuk, atau yang terlibat hutang. Alasannya, mereka dianggap sebagai "penyakit" atau benalu di kampungnya.

Tujuan mereka dikirim untuk bergabung dengan GAM supaya penyakit di kampung itu hilang. Ternyata setelah berada bertahun-tahun di gunung, banyak yang hidup dan kembali ke kampung sambil menenteng senjata AK-47.

Memang ada yang berlatar sarjana, tapi sedikit jumlahnya. Lebih banyak berpendidikan rendah atau yang "bermasalah".

Bagaimana dengan saya? Saya bukan direkrut tapi menawarkan diri, itu yang membedakan saya dengan eks kombatan kebanyakan. Saya saat itu tengah berstatus mahasiswa.

Makanya, saya tidak merasa memiliki beban, karena saya bukan dipaksa masuk GAM. Saya menawarkan diri untuk mengabdi demi perjuangan.


Karenanya, saat ini, saya tidak pernah memasalahkan, ketika teman-teman sesama eks kombatan menjadi bupati, anggota DPR.

Saya sama sekali tidak masalah, tidak iri, saya tidak merasa tersingkir.

Bagaimanpun, lalu jalan keluar seperti apa untuk menyejahterakan eks kombatan dan masyarakat Aceh secara umum?

Dana untuk Aceh itu besar sekali. Dana itu dapat digunakan untuk membangun lahan terbengkalai yang tidak produktif, dengan menjadikannya produktif.

Lalu buatlah program pertanian dan peternakan yang modern dan terpadu. Itu dapat menciptakan lapangan kerja.

Apakah Nobita di Doraemon Berasal dari Kisah Nyata?

 BERIKUT BEBERAPA TEORI TENTANG NOBITA DI KARTUN DORAEMON


Nama Nobita masuk ke dalam trending topic media sosial. Netizen ramai memperdebatkan sifat Nobita yang dikenal pemalas dan selalu merengek meminta bantuan kepada Doraemon tersebut tak selamanya buruk.

Di tengah diskusi hangat, netizen penasaran dengan sosok Nobita itu sendiri apakah tokoh utama anime Doraemon ini berasal dari kisah nyata?

1. Apakah Nobita berasal dari kisah nyata?


Nobita bukan berasal dari kisah nyata dan merupakan tokoh fiksi. Sosok Nobita diciptakan pada Desember 1969 bersamaan dengan lahirnya Doraemon oleh Fujiko Fujio, nama pena dari tim Hiroshi Fujimoto dan Motoo Abiko. Kala itu, manga Doraemon terbit dalam majalah bulanan anak, yaitu Yoiko, Yochien, Shogaku Ichi-nensei, Shogaku San-nensei, Shogaku Yon-nensei, dan Shogaku Ni-nensei.

Meski merupakan tokoh fiksi, viral teori konspirasi kalau Nobita berasal dari sosok nyata. Dikatakan kalau Nobita bernama asli Nobita Hiroshi yang mengalami perundungan di sekolah dan tidak mendapat support dari keluarga. 

Karena masalahnya tersebut, Nobita lalu menderita schizophrenia dan memiliki  teman imajiner robot bernama Doraemon. Keluarganya lalu membawanya ke dokter, dan Nobita memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, karena tak kuasa menerima kenyataan kalau Doraemon hanya khayalan belaka. Berakhir tragis, nyatanya teori ini tidak pernah terbukti benar.

3. Karakteristik Nobita dalam gambaran populer


Secara populer, tokoh fiksi ini memiliki nama lengkap Nobita Nobi. Sosoknya digambarkan sebagai anak SD yang kekanak-kanakan dan tidak suka belajar, sehingga nilainya selalu jelek. Nobita juga kerap dimarahi ibunya, karena nilainya yang jelek.

Kehidupan Nobita juga diwarnai oleh Gian dan Suneo yang sering mengerjainya. Setiap episode dari serial Doraemon pun berputar dengan masalah Nobita dan dibantu oleh robot kucingnya tersebut.

Nah, siapa yang ikut kegocek sama kisah konspirasi Nobita?

Rabu, 20 Agustus 2025

BUMI BERONGGA

 


 Mitos Agartha dan teori bumi berongga

Agartha hidup layaknya teori konspirasi lainnya,
seperti Atlantis, Lemuria, piring terbang, atau bumi datar.

Sejak dirilis layanan video berbasis langganan, Netflix, pada 14 Juni 2024 lalu, film serial fiksi ilmiah supranatural Nightmares and Daydreams yang digarap sutradara Joko Anwar berhasil menarik perhatian penggemar film. Film yang terdiri dari tujuh episode—yang peristiwa dan tokoh-tokohnya saling berhubungan itu—menyuguhkan kelompok makhluk jahat yang disebut Agarthan dari dunia bawah tanah yang disebut Agartha melawan kelompok manusia pilihan yang disebut Antibodi.

Joko tidak mengeksplorasi cerita alien, walau serialnya bergenre fiksi ilmiah. Ia justru mengulik Agarthan, entitas yang tinggal di perut bumi. Agartha hidup sebagai teori konspirasi, layaknya LemuriaAtlantisbumi datar, dan piring terbang..




Merujuk The Portalist, akar teori Agartha sudah ada sejak abad ke-19. Tepatnya pada 1886, filsuf dan okultis—ahli ilmu gaib—Prancis, Joseph Alexandre Saint-Yves menerbitkan buku Mission de l’Inde en Europe yang mengklaim pertemuannya dengan orang-orang dari Agartha.

Tahun 1908, penulis Amerika Willis George Emerson menerbitkan The Smoky God, yang konon merupakan kisah nyata seorang pelaut Norwegia bernama Olaf Jansen, yang melintasi pintu masuk ke bumi berongga di Kutub Utara dan tinggal bersama penduduk di sana selama dua tahun.

Lantas, okultis Jerman, terutama yang bergabung dengan Nazi, saat Perang Dunia II memasukkan berbagai kepercayaan dan tradisi yang berbeda ke dalam gagasan mereka, di antaranya adalah kisah Agartha. 


Singkatnya, Agartha adalah kerajaan bumi bagian dalam yang terhubung ke setiap benua melalui jaringan terowongan yang luas. Menurut Explorers Web, konon pintu masuknya terletak di suatu tempat jauh di Himalaya. Jaringan terowongan antarbenua itu disebut diciptakan ras makhluk kuat Old Ones.

“Mereka jauh melampaui manusia secara fisik dan spiritual, serta kecerdasan dan teknologi,” tulis Explorers Web.

Ras misterius itu dikenal sebagai ras yang hampir maha tahu dan sadar semua kejadian di permukaan bumi. Agarthan pernah hidup di permukaan. Namun, saat bumi menjadi tidak stabil, mereka bergerak ke bawah tanah. Agarthan pun dipercaya memiliki dua bahasa dan dapat berbicara lebih dari satu bahasa pada saat yang bersamaan.


Gagasan Agartha sangat terkait dengan teori bumi berongga atau hollow earth. Dilansir dari Geophysical Institute University of Alaska Fairbanks inti dari teori bumi berongga adalah bumi sebagai sebuah cangkang dengan dinding setelah sekitar 800 mil. Di wilayah kutub terdapat lubang selebar 1.400 mil, dengan tepi yang melengkung dari bagian luar cangkang hingga ke dalam.

Teori bumi berongga, dinukil dari Politifact, dimulai ketika astronom Inggris Edmond Halley menginformasikan kepada Royal Society of London pada 1960-an bahwa bumi terdiri dari cangkang bola bersarang yang berputar ke berbagai arah dan mengelilingi inti pusat.

“Halley menduga, ruang di antara cangkang mungkin memiliki atmosfer bercahaya yang mendukung kehidupan,” tulis Politifact.

Lantas, pada awal 1800-an, orang Amerika, John Symmes, mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk meyakinkan dunia bahwa bumi dibentuk oleh serangkaian cangkang konsentris.


“Symmes percaya, ada bermil-mil wilayah menakjubkan yang belum diklaim di bawah kaki kita, dengan tumbuh-tumbuhan subur, ikan, dan heran buruan untuk diambil,” tulis Geophysical Institute.

Kemudian, teori bumi berongga didorong kembali oleh Raymond Bernard—nama samaran. Ia menulis buku The Hollow Earth pada 1960-an. Dalam buku itu, ia menuliskan kisah yang tak masuk akal, tentang Laksamana Byrd yang ia klaim sudah melakukan beberapa perjalanan di dalam bumi dengan masuk melalui lubang-lubang di Kutub Utara.

Terlepas dari itu, faktanya lubang terdalam yang pernah dibor manusia adalah lubang Kola Deep di Arktik, Rusia, yang dikerjakan sejak 1970-an di masa Uni Soviet. Kedalamannya 12.263 meter. Hanya 0,2% dari jarak ke inti bumi.

Seorang profesor geofisika dari University of Chicago, Andrew Campbell, dalam Politifact menyebut, kepadatan bumi lebih besar daripada kepadatan lapisan batuan yang menyusun kerak bumi.


“Bumi memiliki kepadatan rata-rata 5,5 gram per sentimeter kubik, sedangkan batuan di kerak bumi memiliki kepadatan rata-rata 2,7 gram per sentimeter kubik,” kata Campbell dalam Politifact.
“Jika planet kita berongga, kepadatannya akan lebih rendah, bukan lebih besar, dibandingkan kepadatan kerak bumi.”
Campbell mengatakan, para ilmuwan tidak dapat mengunjungi bagian dalam bumi, tetapi punya cara lain untuk mengukur komposisinya. Misalnya, dengan menganalisis gelombang yang dihasilkan oleh gempa bumi yang melintasi bagian dalam, memperlambat dan mengubah jalurnya saat mencapai batas lapisan dalam.


“Kehidupan mungkin ada pada kedalaman yang sangat terbatas di kerak bumi, tetapi tidak lebih dalam dari itu,” ujar Campbell.
“Di mantel dan inti bumi, tekanan dan suhu sangat tinggi, sehingga kehidupan kimiawi tidak mungkin terjadi. Molekul organik kaya karbon akan bereaksi membentuk berlian dan bahan lainnya.”
Campbell yakin, mustahilnya akses ini membuat kedalaman bumi begitu menarik bagi manusia. “ Jadi, orang-orang berfantasi tentang apa yang ada di sana,” tutur Campbell dalam Politifact.



BACA JUGA  :



Selasa, 19 Agustus 2025

G30 S PKI

 

 Teori Konspirasi G30S PKI, Keterlibatan Soeharto Hingga Campur Tangan CIA



Peristiwa berdarah Gerakan 30 September 1965 atau G30S PKI sampai saat ini masih menjadi misteri dalam sejarah Indonesia. Masyarakat masih bertanya-tanya terkait dalang di balik tragedi yang merenggut banyak korban jiwa ini. Seiring dengan itu, muncul teori konspirasi G30S PKI yang bergulir di tengah kehidupan. 

Selama ini, masyarakat umum mengenal G30S PKI sebagai pristiwa pembunuhan terhadap 7 jenderal. Tujuh jenderal yang dibunuh itu kini kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi. Mereka antara lain adalah Jenderal Ahmad Yani, Mayjen R Suprapto, Mayjen S Parman, Mayjen MT Haryono, Brigjen DI Panjaitan, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Lettu Pierre Andreas Tendean. Abdul Nasution juga nyaris jadi korban namun berhasil melarikan diri.

Teori Konspirasi G30S PKI


1. PKI jadi Dalang G30S PKI


Teori yang pertama menyebutkan bahwa G30S didalangi oleh para tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan cara memperalat unsur tentara. Teori ini muncul berdasarkan analisa dari serangkai kejadian dan aksi yang sudah dilakukan oleh PKI dari tahun 1959 sampai 1965.

Tak sampai di situ, terjadinya beberapa perlawanan bersenjata usai peristiwa 30 September 1965 yang dilakukan oleh sekelompok yang menamakan diri sebagai CC PKI terjadi di Blitar Selatan, Grobogan, dan Klaten pun jadi penguat teori konspirasi ini.

2. Soeharto ada di Balik G30S PKI


Teori konspirasi berikutnya tertulis dalam buku yang berjudul Indonesian Tragedy, Brian May menyatakan bahwa terjalin hubungan antara Letkol Untung, pemimpin G30S dengan Mayjen Soeharto yang kala itu menjabat sebagai Panglima Kostrad. Teori ini diperkuat setelah PKI hancur, di mana Soekarno memberikan mandat kekuasaannya kepada Soeharto melalui Supersemar.

3. Kepentingan Amerika serikat & Inggris

Teori konspirasi G30S PKI berikutnya adalah kepentingan Amerika Serikat dan Inggris. Hal ini diutarakan oleh Greg Paulgrain yang menyebut keinginan Amerika Serikat agar Indonesia bebas dari komunisme dan menjauh dari penganut ideologi komunis. 

Di sisi lain, Inggris juga berkeinginan untuk mengakhiri sikap konfrontatif Presiden Soekarno kepada Malaysia. Dengan cara menggulingkan Presiden Soekarno, maka keinginan dari dua negara besar ini akan tercapai dengan mudah.



4. Soekarno Jadi Dalang G30S PKI

Teori G30S PKI satu ini dikemukakan oleh Anthony Dake dan John Hughes yang berawal dari asumsi bahwa Soekarno ingin menghilangkan kekuatan opsi yang berasal dari sebagian perwira tinggi AD pada dirinya. PKI pun lantas terseret, sebab partai ini sangat dekat dengan Soekarno.
Teori konspirasi ini muncul dari kesaksian seorang pilot asal India, Shri Biju Patnaik. Ia mengungkapkan bahwa pada tanggal 30 September 1965 tengah malam, Soekarno memintanya untuk meninggalkan Jakarta sebelum subuh tiba, seakan sudah mengetahui bahwa akan ada ‘peristiwa besar’ esok hari.

Akan tetapi, teori ini kemudian bertolak belakang dengan tindakan Soekarno yang menentang G30S dan mengutuk gerakan ini dalam sidang Kabinet Dwikora di Bogor pada tanggal 6 Oktober 1965.


5. Persoalan Internal Angkatan Darat (AD)


Teori selanjutnya dikemukakan oleh Ben Anderson, WF Wertheim, dan Coen Hotsapel yang mengungkap bahwa adanya persoalan internal di antara anggota Angkatan Darat hingga menyebabkan meledaknya peristiwa G30S.
Dugaan tersebut didukung oleh pernyataan dari pemimpin Gerakan, yakni Letnal Kolonel Untung. Kala itu, ia menyatakan jika para pemimpin AD hidup bermewah-mewahan dan terus memperkaya diri hingga terjadi pencemaran nama baik Angkatan Darat.

Senin, 18 Agustus 2025

20 Tahun Berlalu, Ini 7 Kejanggalan Kasus Kematian Munir

 


Setelah dua dekade, kasus kematian Munir masih belum menemukan titik terang. Berbagai kejanggalan menyertai hingga saat ini.

Kasus pembunuhan aktivis hak asasi manusia (HAM) Munir Said Thalib memasuki tahun ke-20 pada Sabtu, 7 September 20204. Munir tewas diracun arsenik saat dalam penerbangan pesawat Garuda Indonesia menuju Amsterdam, Belanda, untuk melanjutkan studinya. Hingga kin, misteri di balik kematiannya masih belum terungkap sepenuhnya.


Sejauh ini hanya dua orang yang dihukum terkait kasus tersebut, yaitu pilot Garuda Indonesia, Pollycarpus Budihari Priyanto, dan Direktur Utama Garuda, Indra Setiawan. Indra dinyatakan bersalah karena memberikan kesempatan kepada Pollycarpus untuk membunuh Munir dengan menempatkannya di bagian keselamatan penerbangan.

7 Kejanggalan Kasus Munir


1. Keanehan Pollycarpus


Kasus pembunuhan ini menyimpan banyak kejanggalan. Pollycarpus, yang saat itu berstatus sebagai pilot, sebenarnya sedang dalam masa cuti, namun Indra Setiawan tetap memberinya surat tugas.Tiga hari sebelum keberangkatan, Munir menerima telepon dari seseorang yang bernama Pollycarpus. Dalam panggilan tersebut, Pollycarpus memastikan bahwa Munir harus naik penerbangan GA 974.

2. Kebebasan Pollycarpus

Salah satu kejadian paling mengecewakan dalam kasus Munir adalah ketika Pollycarpus mendapat banyak pengurangan hukuman. Pada Januari 2008, setelah Kejaksaan Agung mengajukan peninjauan kembali, Pollycarpus dijatuhi hukuman 20 tahun penjara. Namun, saat Pollycarpus mengajukan peninjauan kembali, hukumannya dikurangi menjadi 14 tahun.

Pada akhirnya, pada 28 November 2014, Pollycarpus dibebaskan bersyarat. Secara keseluruhan, ia mendapatkan remisi yang cukup besar, yaitu 4 tahun, 6 bulan, dan 20 hari. "Kami sudah melalui prosedur, sudah menjalani hukuman. Pokoknya kami sudah ikuti semua aturan," ujarnya.

Selama persidangan, terungkap bahwa Pollycarpus sering dihubungi oleh nomor telepon khusus milik Deputi V Badan Intelijen Negara Bidang Penggalangan dan Propaganda, Mayor Jenderal (Purn) Muchdi Pr. Namun, Pollycarpus mengklaim baru mengenal Muchdi saat persidangan, dan Muchdi pun menyatakan hal yang sama. Menurut Muchdi, siapa pun bisa menghubungi Pollycarpus dari nomor tersebut, tetapi ia menegaskan bahwa bukan dirinya yang menelepon.


3. Keanehan Pemberian Racun

Kemungkinan besar racun arsenik yang menyebabkan kematian Munir pada 2004 masuk ke tubuhnya saat ia transit di Singapura dalam penerbangan Garuda dari Jakarta menuju Amsterdam. Misteri kematian Munir dapat terungkap jika diketahui dengan siapa saja ia berinteraksi selama transit.

Saat sidang peninjauan kembali putusan Mahkamah Agung di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 2007, kesaksian baru dari Raymond Latuihamalo alias Ongen menjadi kunci. Ongen awalnya menyatakan bahwa ia melihat Pollycarpus memberikan minuman kepada Munir, namun kemudian mencabut kesaksiannya di pengadilan.

4. Ketidakkonsistenan Kesaksian Ongen

Versi pengadilan, Ongen memesan teh di Coffee Bean saat transit di Singapura untuk minum obat. Ia berada sekitar 2 meter dari Munir, yang saat itu bersama seorang pria, namun bukan Pollycarpus. Ongen bahkan menyatakan tidak melihat Pollycarpus di Bandara Changi. "Saya melihat seorang pria, tapi bukan dia," katanya sambil menatap Pollycarpus pada 22 Agustus 2007.

Versi berita acara pemeriksaan (BAP), Ongen menyebut bahwa ia melihat Pollycarpus membawa minuman dan memberikannya kepada Munir. Sambil minum, Ongen mengaku melihat Munir berbincang dengan Pollycarpus. Namun, keterangan ini kemudian dicabut.


5. Dugaan Keterlibatan BIN

Muchdi Prawiro Pranjono, yang merupakan Deputi V BIN pada saat itu, pernah menjadi terdakwa dalam kasus pembunuhan Munir. Namun, pada 31 Desember 2008, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan untuk membebaskannya dari semua dakwaan.

Selama periode sebelum dan setelah pembunuhan Munir, diduga ada lebih dari 40 kali komunikasi telepon antara Muchdi dan Pollycarpus. Bahkan, pada hari pembunuhan Munir, tercatat ada 15 kali percakapan telepon antara Muchdi dan Pollycarpus. Di sisi lain, Indra mengaku menerima permintaan dari BIN, tetapi membantah keterlibatannya dalam konspirasi pembunuhan Munir.

6. Hilangnya Laporan TPF

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah membentuk tim pencari fakta untuk mengungkap kebenaran dalam kasus ini. Hasil investigasi dari tim tersebut diserahkan langsung kepada Presiden Yudhoyono pada 24 Juni 2005. Namun, selama masa kepemimpinan SBY, dokumen tersebut tidak pernah dipublikasikan.

Setelah pergantian rezim kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi), tiba-tiba dokumen laporan TPF dinyatakan hilang. Kehilangan laporan tersebut baru diketahui pada pertengahan Februari 2016. Saat itu, KontraS mengunjungi kantor Sekretariat Negara untuk meminta penjelasan dan mendesak agar hasil laporan TPF mengenai pembunuhan Munir segera diumumkan.


7. Keengganan Negara untuk Menuntaskan Kasus Ini


Dua puluh tahun tahun berlalu, namun kasus pembunuhan Munir tak kunjung menemukan titik terang. Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mengungkapkan bahwa terdapat ketidakmauan dari negara untuk menyelesaikan kasus ini. 

Minimnya keinginan negara untuk membuka kembali kasus Munir tercermin dari hilangnya dokumen TPF yang sulit diterima oleh nalar. Sementara itu, TPF sendiri merupakan tim yang dibentuk melalui Keputusan Presiden Nomor 111 Tahun 2004. Pembentukan TPF ini menjadi langkah penting dalam mengungkapkan aktor intelektual dibalik meninggalnya Munir. Tetapi, dokumen hasil penyelidikan TPF atas kematian munir dinyatakan hilang. 

“Sayangnya pemerintah tidak pernah mengumumkan laporan TPF, meski Keppres 111/2004 memandatkannya,” tutur Usman dalam keterangan tertulis pada Jumat, 6 September 2024.

Pada Oktober 2016, Komisi Informasi Publik Pusat sempat meminta pemerintah untuk segera mengumumkan isi laporan TPF tersebut. Tetapi, Kementerian Sekretariat Negara mengungkapkan bahwa mereka tidak memiliki dokumennya. 

Usman juga menggarisbawahi berhentinya langkah pemerintah dalam menuntaskan hasil penyelidikan baik dari kepolisian, kejaksaan, maupun pengadilan. Menurut dia, kemampuan aparat penegak hukum Indonesia sebenarnya tidak perlu diragukan lagi. Namun, kemampuan aparat penegak hukum itu terhalang oleh keengganan politik untuk mengambil sejumlah langkah hukum dalam menuntaskan kasus kematian Munir. 



BACA JUGA  :



Sisi Gelap Makhluk Mitologi Putri Duyung, Suka Mengorbankan Manusia

  Suaritoto    -  Putri duyung adalah makhluk mitologi setengah gadis dan setengah ikan atau ular laut. Wanita-wanita ini sering dikenal mis...