Suaritoto – Winnie The Pooh adalah kartun dengan karakter beruang fiksi yang berasal dari Britania Raya. Penulisnya bernama A.A. Milne dengan ilustrasi cerita yang dibuat oleh E.H. Shepard. Winnie The Pooh pertama kali terbit pada tahun 1926.
Winnie The Pooh diceritakan memiliki banyak sahabat dari berbagai hewan lainnya. Ia juga diceritakan memiliki teman seorang anak kecil bernama Christopher Robin. Karakter mereka pun berbeda-beda sehingga memunculkan beragam pola cerita yang unik. Karakter hewan-hewan dalam Winnie The Pooh digambarkan dengan lucu dan menggemaskan. Warna-warna yang dipilih pun adalah warna-warna cerah yang dapat memanjakan mata ketika membacanya.
Baca Juga: Teori Konspirasi Kesehatan Vladimir Putin, 5 Bukti Sang Presiden Rusia Sakit Kanker Tiroid hingga Parkinson
Namun di balik itu semua, ada teori konspirasi yang beredar terkait dengan karakter dari masing-masing tokohnya. Hal ini disebabkan karena adanya pola perilaku yang menjurus pada gejala terhadap gangguan-gangguan mental. Berikut penjelasannya.
1. Christopher Robin (Skizofrenia)
Sebagai tokoh manusia satu-satunya dalam cerita ini, Christopher Robin adalah seorang anak laki-laki yang bermain dengan boneka-bonekanya.
Ia berbicara dengan mereka dan masuk pada dunia mereka. Di sisi lain, ada dugaan bahwa imajinasi ini kemudian membawa Christopher Robin pada keadaan di mana ia tak bisa membedakan mana dunia nyata dan khayalan semata.
2. Winnie The Pooh (Eating Disorder)
Pooh diceritakan senang sekali memakan madu. Ia sering kali mengalami kelaparan dan cemas jikalau persediaan madunya habis. Walaupun perilakunya tetap lucu dan menggemaskan, namun nafsu makannya yang tinggi diduga juga merupakan sebuah gejala gangguan mental.
Eating disorder adalah gangguan makan di mana si penderitanya selalu merasa lapar dan ingin terus makan.
3. Piglet (Anxiety Disorder)
Piglet digambarkan sebagai seekor babi kecil berwarna merah muda. Piglet diduga memiliki gangguan kecemasan karena sifatnya yang mudah cemas tentang segala sesuatu. Misalnya saja, ia sering bersembunyi dan kabur secara tiba-tiba jika melihat sesuatu.
4. Eeyore (Depressive Disorder)
Eeyore adalah seekor keledai yang berwarna abu-abu tua dan selalu terlihat murung serta putus asa. Eeyore seringkali kehilangan ekornya yang berbentuk pita. Karakter Eeyore begitu pesimistis. Eeyore adalah keledai yang tidak memiliki semangat hidup, yang bisa langsung terlihat pada raut wajahnya. Saat kehilangan ekornya, ia seakan-akan pasrah begitu saja dan enggan untuk berjuang.
5. Owl (Disleksia dan Short-Term Memory Loss)
Seperti arti namanya, Owl adalah seekor burung hantu yang diceritakan paling cerdas di antara semua hewan dalam cerita ini.
Namun di samping itu semua, Owl sering kali lupa tentang apa yang telah ia katakan dan juga seringkali salah dalam mengeja kata-kata. Hal ini pun menimbulkan kesalahpahaman pada hewan-hewan lain.
6. Tigger (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)
Tigger adalah seekor macan yang sering meloncat-loncat dengan menggunakan ekornya. Namun saking lincahnya,
Tigger diduga memiliki gangguan mental berupa dorongan yang kuat untuk bertindak di luar kendalinya. Hal ini bisa ia lakukan dalam berbagai keadaan, seperti saat berbicara ataupun berjalan.
7. Rabbit (Obsessive Compulsive Disorder)
Rabbit juga diduga memiliki sebuah gejala gangguan mental yakni gangguan kecemasan. Gangguan ini menyebabkan dirinya memiliki dorongan yang kuat untuk melakukan sesuatu secara berulang-berulang.
Hal ini tentu saja buang-buang waktu. Ia akan merasa cemas dan terganggu jika tak melakukan sesuatu dengan berulang-ulang. Misalnya saja saat ia membereskan tempat penyimpanan madu miliknya.
8. Kanga (Social Anxiety Disorder)
Kanga adalah seekor kangguru dan memiliki anak di kantungnya. Gangguan mental yang menyerangnya yaitu berlebihan dalam menjaga anaknya. Sehingga sang anak tak bisa ke mana-mana selain di dalam kantung ibunya
Kekhawatiran yang berlebihan itu ia tunjukkan pada anaknya yang bernama Roo, sehingga ia sulit untuk bisa bermain ke luar dan melihat lingkungannya.
9. Roo (Autisme)
Sebagaimana penjelasan di atas, Roo yang merupakan anak dari Kanga, mendapat perlakuan yang berlebihan dari ibunya sehingga membuatnya tak bisa bebas ke mana-mana. Karena terlalu dikekang,
Roo diduga menjadi seorang anak yang autis. Ia terus diam di kantung ibunya sehingga membuatnya tak berinteraksi dengan hewan-hewan lainnya. Di samping semua dugaan adanya gangguan mental pada tokoh-tokoh kartun Winnie The Pooh tersebut, cerita ini tetap bisa menghibur dan memiliki nilai-nilai kehidupan yang baik.
Winnie The Pooh banyak mengajarkan arti kesetiakawanan dan gotong royong antar sesama makhluk hidup.***